Budidaya cabe menjajikan masa depan petani

Kebun Cabe Milik Bapak Sholihin Kampung Tridarma Wirajaya. (dokumen desa.id - foto : badar)

tridarmawirajaya.desa.id | Geliat bercocok tanam palawija bagi petani di Kampung Tridarma Wirajaya sudah lama di mulai. Semula bertani kebun karet dan sawit. Tetapi sejak harga karet turun drastis banyak petani kebun pindah ke petani palawija. Salah satu bertani palawaija adalah budidaya cabe merah keriting.

Budidaya cabe merah sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian petani Kampung Tridarma Wirajaya. Hampir tidak ada putusnya disetiap waktu. Baik di musim hujan ataupun di musim kemarau. Untuk budidaya di musim kemarau hampir semua petani cabe memiliki sumur bor di ladangnya. Sehingga kebutuhan akan air untuk tanaman terpenuhi.

Walaupun Sebagian besar bertani cabe, tetapi masih banyak gendala yang dihadapi. Gendala berupa modal. Dalam budidaya cabe memerlukan modal yang cukup besar. Terutama dalam pemeliharaan, khusunya obat-obatan. Maka tidaklah heran jika petani cabe akan memperoleh hasl yang besar, dikarenakan modal yang dikeluakan juga besar.

Kebun Cabe Milik Bapak Sholihin (dokumen desa.id – foto : badar)

Berbudidaya cabai sudah menjadi tradisi bagi petani kampung Tridarma Wirajaya. Dalam arti tidak pernah putus. Selalu berkesinambungan. Ada yang mulai menanam, ada pula yang mau panen, ada yang sedang panen. Menanam cabe di musim kemarau tidak bisa diserempakan, karena masalah air. Bebeda dengan musim tanam di musim penghujan.

Untuk musim tanam dibulan ini ada yang baru menyemai, ada juga yang baru tanam dan ada yang sudah mulai buah dan ada juga yang sudah paripurna. Untuk tanaman cabe yang baru mulai buah adalah milik sholihin. salah satu petani cabe handal dan merupakan petani jempol Indonesia. Hampir keseluruhan kebutuhan hidup dari pak sholihin adalah petani palawija berupa sayur mayur.

Budidaya cabe lokal Milik Sholihin berumur 55 hari.(dokumen desa.id – foto : Badar).

Lahan yang digunakan untuk budidaya cabai seluas tiga ribu meter persegi. Merupakan tanah SMPN 1 Banjar Agung yang ia sewa. Sebagian untuk budidaya cabai dan sebagaian lagi untuk budidaya terong. Cabai yang ia tanam sudah mulai berbuah begitu juga terong yang sudah lima kali dipanen. Cabai yang yang dibudidayakan sampai dengan sekarang baru berumur 55 hari.

Bagi Sholihin bercocok ercocok tanam cabai bukan merupakan hal yang aneh, karena hampir sleuruh hidupnya bertani sayuran khusunya cabe. Dalam budidaya cabe tidak mengenal waktu. Musim hujan tetap menanam apalagi di musim kemarau. Dan hasil tanamanya tidak terserang penyakit. Hal ini dimungkinkan sholihin sudah paham tentang budi daya cabe.

Tanaman Terong Yang sudah Mulai Panen (dokumen desa.id – foto : badar)

Benih yang digunakan dalam budidaya cabai adalah benih lokal. Tidak biasanya pak sholihin menggunakan bibit lokal, tetapi untuk waktu ini menggunakan bibit lokal. Ada beberapa alasan mengapa pak sholihin menggunakan bibit lokal. Pertama tahan terhadap serangan penyakit. Kedua tidak telalu berani terhadap air. Kekurangnya jika dibandingkan dengan bibit hibrida adalah buah bibit lokal tidak selebat benih hibrida. Bibit lokal batang tidak terlalu tinggi.

Bercocok tanan cabe benih lokal sudah dimulai satu tahun yanglalau bagi petani cabe di Kampung Tridarma Wirajaya. Alasannya sama. Menanam cabe benih unggul sudah tidak cocok. Mudah terserang penyakit. Terutama hama trip. Dan sudah dibuktikan budidaya cabe benih lokal berhasil. Walaupun hasil yangdiperoleh tidak semaksimal benih hibrida.

Disamping Budidaya Cabe Sholihin Juga Budidaya Terong.(dokumen desa.id – Foto : badar)

Petani cabe Kampung Tridarma Wirajaya sebagian besar banyak yang berhasil, tetapi tidak banyak juga yang gagal. Setelah diperhatikan petani yang ggal menggunakan bibit hibrida. Menggunakan bibit hibrida telalu berisiko,karena rentan terhadap penyakit. Dengan budidaya cabe diharapkan petani semakin berhasil. Berarti kesejahteraan hidupnya akan tercukupi.

.

(badar/tdw)

About Badar 416 Articles
Pegawai Kecamatan Banjar Agung

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan