Dika petani cabe kampung tridarma wirajaya

Kebun Cabe Milik Dika Kampung Tridarma Wirajaya.desa.id - foto : badar).

tridarmawirajaya.desa.id | Andika Yatna Saputra yang biasa di panggil Dika. Adalah petani muda di Kampung Tridrma Wirajaya, Kecamatan Banjar Agung, Kabupaten Tulang Bawang. Anak muda yang bertempat tinggal di RT. 01 Suku 04 Kampung Tridarma Wirajaya, merupakan anak muda yang hobi menggeluti pertanian khususnya hortikultura, khususnya cabe merah kriting.

Sejak tahun 2016 sampai dengan sekarang masih tetap menggeluti cabe merah. Ketekunanya dan keuletan dalam bercocok tanam patut di acungi jempol. Hal ini dikarenakan keberhasilanya . Merupakan salah satu diantara pemuda yang tidak pernah bekerja dalam bidang lain. Luas lahan yang dioleh tidak terlalu lebar. Berukuran 50 meter X 100 meter, lima ribu meter persegi panjang. Sebenarnya lahan masih cukup lebar, tetapi mengingat modal dan tenaga yang tidak mampu.

Tanaman Cabe Milik Dika.(dokumen desa.id – foto ; badar)

“Saya bercocok tanam cabe semenjak tahun 2016 sampai dengan sekarang”. Menurut  Dika.  Banyak orang mengatakan bahwa bertani cabe adalah sulit. Sebenarnya bukan sulit, tapi sebenarnya sebelum menananm sudah takut bayangan kegagalan”. Lanjut Dika.  Soal gagal dan berhasil sudah menjadi resiko dalam bercocoktanam cabe. Seandainya kita tekuni banyak berhasilnya dibanding dengan gagalnya.

 Jenis cabe yang dibudidayakan adalah cabe lokal. Biasanya yang dibudidayakan adalah bibit cabe hibrida. Tetapi dimungkinkan unsur tanah yang kurang cocok untuk bibit hibrida, maka untuk saat ini dicoba budidaya bibit cabe lokal. Dari bibit lokal dapat dibuktikan cukup bagus. Karena ada kelebihan dari bibit lokal tahan terhadap penyakit.

Panen perdana Cabe Milik Dika. (dokumen desa.id – foto : badar)

Dari tanaman cabe tersebut sudah mulai panen. Panen perdana belum terlalu banyak berkisar delapan puluh kilo gram. Hasil panen dijual di pasar Tulang Bawang. Sangat disayangkan harga cabe merah kriting akhir-akhir ini menjadi anjlok, berkisar lima belas sampai tujuh belas ribu per kilo gram. Namun demikian Dika cukup senang, dikarenakan masih ada harapan dengan cabe yang ditanam.

Permasalahan yang mendasar adalah harga cabe yang tidak menentu. Pagi hari dan sore hari sudah berbeda. Harapan kedepan untuk petani cabe di Kampung Tridarma Wiraya adalah bantuan pemerintah untuk mengendalikan harga cabe. Sebab budidaya cabe memerlukan biaya yang cukup tinggi. Biaya tersebut adalah biaya perawatan termasuk obat-obatan. Mengakibatkan petani merugi, jika harga cabe murah.

(badar/tdw)

Facebook Comments
About Badar 410 Articles
Juru Tulis Kampung Tridarma Wirajaya

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan