Pak mulyono petani sayuran kampung tridarma wirajaya

Kebun Sayuran (Timun) Milik Bapak Mulyono. (dokumen desa.id - foto : badar).

tridarmawirajaya.desa.id | Pak Mulyono petani sayuran dari kampung Tridarma Wirajaya, merupakan salah satu petani sayuran dari sekian banyak petani sayuran yang ada di Kampung Tridarma Wirajaya, tepatnya di RT. 04 Suku 03 Kampung Tridarma Wirajaya. Yang menarik dari sosok pak Mulyono ini dibandingkan dengan petani sayuran lainya di Kampung Tridarma Wirajaya adalah, pertama berani mengambil keputusan yang awalnya petani karet. Kedua usia yang sudah lanjut. Jadi merupakan salah satu petani yang berinovasi dari petani karet menjadi petani sayuran.

“Awalnya saya petani karet. Kemudian saya tinggalkan, karena usia saya sudah tua dirasakan terlalu capek, sehingga tenaga saya sudah tidak mampu. Kedua hasil dari getah karet sudah menurun, karena batang karet sudah tua, dan yang ketiga harga yang semakin lama semakin menurun. Dari harga yang tidak menentu ini mengakibatkan tidak ada keseimbangan dengan kebutuhan pokok yang semakin mahal. Apalagi dengan kebutuhan pupuk .Ini yang menjadikan saya beralih ke petani sayuran.” Kata Pak Mulyono.

Pare hasil Panen Kebun Sayur Pak Mulyono. (dokumen desa.id – foto : Badar)

Lahan yang dikelola oleh Pak Mulyono tidak terlalu luas 0,25 Ha. Dari luas tersebut di bagi menjadi tiga bagian. Satu bagian ditanami sayuran gambas. Bagian kedua ditanama pare,dan bagian ketiga ditanamai sayuran timun. Dari tiga jenis tanaman sayuran sudah dipanen lebih dari lima belas kali. Sekali panen mencapai 25 Kg, untuk gambas dan parenya, dipenen setiap tiga hari sekali. Sedangkan timun dipanen dua hari sekali dengan volume 50 Kg setiap panen. harga gambas dan pare Rp 5.000,- /Kg, sedangkan harga timun Rp 2.500,-/Kg.

Ada perbedaan yang dirasakan oleh pak Mulyono dari menjadi petani karet pindah menjadi petani sayuran. Terutama tenaga tidak terlalu diforsir. Kedua tidak memerlukan modal yang besar terutama pupuk. Penjualan hasil panen pedagang mengambil sendiri di kebun. “Sekarang saya masih menanam pare dan cabe rawit.” Lanjutnya.

Gambas Hasil Panen Kebun Sayur Pak Mulyono. (dokumen desa.id – foto : Badar).

Disamping berbagai keutamaan bertani sayuran dibandingkan dengan petani kebun karet yang arealnya tidak terlalu lebar adalah dapat memanfaatkan lahan pekarangan yang tidak luas. Lahan tersebut dapat ditamnamai dengan berbagai jenis sayuran. sesuai dengan kebutuhan pasar.

Diharapkan kepada petani karet, dapat mengambil contoh dari pengalaman pak Mulyono. Tidak menjadi ketergantungan menjadi petani karet yang harganya tidak menentu. Tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok dan kebutuhan sarana petani. Dengan bertani yang lain masih ada peluang untuk memenuhi kebutuhan pokok dan biaya anak sekolah.***(bdr/tdw)

About Badar 415 Articles
Pegawai Kecamatan Banjar Agung

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan