Budaya kendurenan, ajang silaturahmi

Kenduren tradisi yang masih ada di Kampung Tridarma Wirajaya. (dok. desa.id - foto : Badar).

tridarmawirajaya.desa.id | Tridarma Wirajaya, 31/12/2017. Kenduren pada dasarnya adalah ritual selametan yakni berdoa bersama yang dihadiri para tetangga dan dipimpin oleh pemuka adat atau tokoh yang dituakan di satu lingkungan. Biasanya disajikan juga tumpeng lengkap dengan lauk pauknya yang nantinya akan dibagikan kepada yang hadir.

Kenduri merupakan mekanisme sosial untuk merawat keutuhan, dengan cara memulihkan keretakan, dan meneguhkan kembali cita-cita bersama, sekaligus melakukan kontrol sosial atas penyimpangan dari cita-cita bersama tadi. Kenduri sebagai suatu institusi sosial menampung dan merepresentasikan banyak kepentingan. Dan tiap “kita”, di sana, menemukan rasa aman. Dalam kenduri tak ada pihak yang kalah atau dikalahkan. Di sana semua pihak terhormat. Tiap orang menang, dan bahagia!!

Kendurenan di Bapak ismoyo dalam Rangka Resepsi Pernikahan. (dokumen desa.id – foto : Badar).

Manifestasi di lapangan

Tujuan dari kenduren itu sendiri adalah meminta selamat buat yang didoakan, dan keluarganya. Di beberapa daerah, kenduren itu sendiri bisa ditemui dengan jenis yang bermacam-macam, seperti:

1.    Kenduren wetonan (wedalan), dinamakan wetonan karena tujuannya untuk selametan pada hari lahir (weton, jawa) seseorang. Di beberapa tempat, kenduren jenis ini dilakukan oleh hampir setiap warga, biasanya satu keluarga satu weton yang dirayakan, yaitu yang paling tua atau dituakan dalam keluarga tersebut. Kenduren ini di lakukan secara rutinitas setiap selapan hari (1 bulan).

2.    Kenduren munggahan. Kenduren ini menurut cerita tujuannya untuk menaikkan para leluhur. Beberapa tempat di menybutnya sebagai selamaten pati, artinya kenduren ini ditujukan sebagai do’a untuk ahli kubur dari keluarga yang menggelar kenduren tersebut. Bagi sebagaian orang kenduren ini juga biasanya dikenal sebagai kenduren/selamatan ke-7, ke-40, ke-100 dan ke-1000 hari wafatnya seseorang.

3.    Kenduren likuran. Kenduren ini dilaksanakan pada tanggal 21 bulan Ramadhan, yang di maksudkan untuk memperingati Nuzulul Qur’an.

4.    Kenduren badan (lebaran/mudunan). Kenduren ini dilaksanakan pada hari Raya Idul Fitri, pada tanggal 1 syawal (aboge). Kenduren ini sama seperti kenduren Likuran, konon hanya tujuannya yang berbeda yaitu untuk menurunkan leluhur. Yang membedakan hanya, sebelum kenduren badan, biasanya didahului dengan nyekar ke makam leluhur dari masing-masing keluarga.

5.    Kenduren ujar. Kenduren ini dilakukan oleh keluarga tertentu yang punya maksud atau tujuan tertentu, atau yang punya.ujar/omong atau cita-cita. Kenduren ini juga sering dilakukan ketika seseorang telah memperoleh anugerah, seperti lulus sekolah, mendapatkan pekerjaan, naik jabatan dan lain sebagainya.

6.    Kenduren mauludan. Kenduren ini dilakukan pada tanggal 12 bulan Maulud. Dalam sebagian tradisi kenduren juga dilakukan dilakukan di hari-hari besar Islam.

Budaya Kenduren masih Berjalan di Kampung Tridarma Wirajaya. (dokumen desa.id – foto : badar).

Kenduren memang sebuah tradisi yang masih dipertahankan hingga saat ini. Meski terkesan sederhana, tradisi ini memang memiliki makna yang mendalam sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini juga positif secara sosial kemasyarakatan karena dapat memperkuat ikatan sillahturahmi satu sama lain. Tidak heran jika tradisi ini dikatakan sebagai tradisi yang sangat merakyat.

Kenduren pada waktu Pesangan Kap TPA. (dokumen desa.id – foto : Badar).

Tradisi kenduren masih berjalan hingga sekarang di Kampung Tridarma Wirajaya, Keamatan Banjar Agung, Kabupaten Tulang Bawang dalam berbagai kegiatan, seperti akan mengadakan Hajatan pernikahan, Sunatan, Mendirikan Rumah dan masih banyak lagi. “Biarlah tradisi ini berjalan seperti biasanya, sebab itu merupakan budaya dari nenek moyang kita, dan kita tinggal memlihara dan melestarikan. Sebab dengan adanya kegiatan ini kita akan selalu menjalin silaturahmi.” Sambut Kepala kampung Tridarma Wirajaya, Tatang Hermansyah dalam acara kendurenan di Bapak Ismoyo dalam rangka resepsi pernikahan.

Kendurenpun dapat dilaksnakan di halaman Rumah. (dokumen desa.id – foto : Badar).

Dengan kenduren ini saya dapat bertemu dengan teman-teman, dapat bercerita tentang kegiaatan kami masing-masing sebelum acara dimuali, saya suka diamping sebagi ajang silaturahmi kenduren juga merupakan budaya dan tradisi yang patut kita lestarikan.” Sambut Muhadi jemaah kenduren

 

 

 

(bdr/bdr)

Facebook Comments
About Badar 390 Articles
Juru Tulis Kampung Tridarma Wirajaya

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan