Secercah Harapan Petani Cabe Untuk Maraih Cita-Cita

Budidaya Cabe Hibrida Kampung Tridarma Wirajaya. (dokumen desa.id - foto by badar).

tridarmawirajaya.desa.id | Kamis, 07 Desember 2017. Cabe adalah salah satu komoditas pertanian yang banyak dikonsumsi oleh rumah tangga dan aneka industri pangan di Indonesia. Semenjak dahulu hingga sekarang, cabe merupakan salah satu komponen bumbu masakan yang terpenting, karena rasanya yang pedas menggugah selera makan dan menambah rasa nikmat pada makanan.

Masyarakat Indonesia umumnya menyukai masakan rasa pedas, sehingga berbagai masakan tradisional nusantara banyak menggunakan cabe. Cabe biasa diolah menjadi sambal dan dihidangkan saat menikmati menu seperti; bakso, soto, siomay, bakmie, nasi goreng dan aneka kuliner lainnya. Cabe juga biasa dikonsumsi dalam kondisi segar teman bersantap hidangan makanan kecil seperti tahu, tempe, bakwan, mie dan lain-lain.

Selain sebagai bumbu masakan, cabe juga telah banyak diolah sebagai bumbu instan seperti sambal instan, saos sambal, dan aneka produk camilan dengan bumbu pedas. Saat ini, telah banyak beredar di toko-toko atau supermarket produk-produk olahan cabe seperti; bumbu masakan instan, sambal, saos, cabe bubuk, aneka makan camilan bumbu pedas, dan lain-lain.

Kebun Cabe Milik Bapak Chairunnas seluas 0,25 Ha umur 2 bulan. (dokumen desa.id –  foto by badar).

Cabe selain sebagai menambah nafsu makan, juga sebagai komudite ekonomi yang cukup menjanjikan bagi petani. Oleah karena itu bagi petani di kampung Tridama Wirajaya banyak yang beralih ke budi daya tananman cabe hibrida, Ini dilakukans sudah 3 tahun yang lalu.

Banyak alasan mengapa petani kebun pindah ke hortukultura, salah satunya yaitu : Umur cabe yang relatif singkat dan harga yang cukup tinggi. Tidak sulit pemasarannya bahkan tengkulak datang sendiri ke kebun. Dalam memenuhi peralatan dan pengobatan sudah tidak mengalami kesulitan, dikarenakan semua sudah tersedia dikios-kios saprodi.

Tanaman Cabe hibrida Milik Bapak Muslih seluas 1 Ha. (dokumen desa.id – foto by badar)

Analisa budidaya tanaman cabe merah  untuk lahan seluas 0,125 Ha untuk lahan tidak menyewa dan alkon sudah milik sendiri.

  1. Belanja Modal
    • bibit 3 Saset X Rp 450.000,-
    • Plastik untuk menyemai bibit ukuran 7 Cm X 10 Cm, 4 pak  X. Rp 25.000 = Rp   100.000,-
    • Plastik untuk menutupi penyemaian 1 Kg X Rp 23.000 =  Rp 23.000,-
    • Kapur Pertanian 4 sac X Rp 50.000,- = Rp 200.000,-
    • Plastik Mulsa 3 gulung X Rp 700.000 = 2.100.000,-
    • Tenaga kerja Rp = 4.350.000,-
    • Pupuk dasar kompos yang sudah difermentasi  4 ton X Rp 400,- = Rp 16.00.000,-
    • Pupuk Kimia Jenis  Mutiara 1 Kwintal X Rp 1.100.000 = Rp 1.100.000,-
    • Obat-obatan  Rp. 3.000.000,
    • Lanjaran 4,000 btg X Rp 400,- = Rp 1.600.000,-
    • Bensin 30 Liter X Rp 9.000,- = Rp  180.000,-

Jumlah Belanja Modal = Rp 14.703.000,- (Empat Belas Juta Tujuh Ratus Tiga Ribu Rupiah)

Untuk lahan seluas 0,25 Ha dapat ditanam 4.000 batang, ukuran 70 CmX 60 Cm, gang 90 Cm. Dalam satu batang cabe menghasilkan 0,5 Kg. Jadi 0,5 Kg X 4.000 btg =  2000 Kg X Rp 30.000/Kg = Rp 60.000.000,- (enam puluh juta rupiah).

Hasil panen – Belanja Modal, Rp 60.000,000 – 14.703.000 = Rp 45.297.000 (Empat Puluh Lima Juta Dua Ratus Sembilan puluh Tujuh Ribu Rupiah).

Jadi petani dalam waktu 3 (tiga) bulan menghasilkan uang sejumlah Rp 45. 297.000, Dalam satu bulan mempunyai hasil Rp 45.297.000/3 bulan = Rp 15.099.000,- (lima belas juta sembilan puluh sembilan ribu rupiah).

Penghasilan yang cukup fantastik bagi petani cabe dalam waktu hanya tiga bulan. Tetapi tidak semua petani yang berhasil dalam budidaya tanam cabe hibrida. Hal ini dikarenakan penerapan pola tanam dan pemeliharan yang kurang teliti.

 

Kebun Cabe Milik Bapak Suyono (keriting) lebar 0,125 Ha usia 2 bulan.  (dokumen desa.id foto by badar).
Kebun Cabe Milik Bapak Samadi luas 0,25 Ha usia 1 bulan. (dokumen desa.id – foto by badar).

 

(bdr/bdr)

Facebook Comments
About Badar 405 Articles
Juru Tulis Kampung Tridarma Wirajaya

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan