Bercocok Tanam Kedelai, Menjanjikan Masa Depan Petani

Rombongan Dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tulang Bawang, ditemani Bapak Nano dan Bapak Misto meninjau tanaman kedelai. (dok. desa)

tridarmawirajaya.desa.id | Sabtu, 18 November 2017.

Kedelai merupakan salah satu komoditas pangan yang strategis di Indonesia. Dengan kedudukan kedelai sebagai komoditas palawija yang kaya akan kandungan protein nabati yang dalam pemanfaatannya memiliki kegunaan yang beragam, terutama sebagai bahan baku industri makanan (tempe, tahu, tauco dan susu kedelai) dan bahan baku industri pakan ternak. Berdasar kondisi tersebut, kebutuhan kedelai terus meningkat dari tahun ke tahun namun produksi kedelai domestik tidak dapat mengimbanginya, sehingga untuk mencukupinya harus impor.

Produksi kedelai dalam negeri terus menurun secara tajam sejalan dengan penurunan areal tanam. Menurunnya areal tanam kedelai sebagai akibat rendahnya partisipasi petani dalam menanam kedelai, karena budidaya kedelai yang diusahakan tidak memberi keuntungan yang layak kepada petani. Hal tersebut, karena terbatasnya ketersediaan teknologi dan rendahnya adopsi teknologi di tingkat petani serta rendahnya tingkat harga yang diterima, sehingga menurunnya nilai tukar petani.

Program kebijakan insentif dengan kegiatan penguatan kelembagaan dan pembiayaan yang dilaksanakan melalui penggalangan partisipasi petani dalam wadah kelompok tani yang disertai pembinaan melalui sekolah lapang merupakan strategi untuk meningkatkan produksi serta mengurangi impor kedelai dan menuju swasembada kedelai. Penerapan teknologi budidaya perlu didukung dengan memperkuat kebijakan pemerintah dalam agribisnis kedelai, seperti penyediaan benih unggul bermutu dan pupuk bersubsidi, pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman), manajemen pasca panen, penetapan harga dasar, kegiatan penyuluhan melalui kelompok tani serta kemudahan teknologi dan rangsangan insentif lainnya bagi petani. Dengan kondisi, tersebut dapat memperkuat tingkat partisipasi dan minat petani untuk memproduksi kedelai dengan penerapan teknologi yang disediakan, khususnya pengembangan program SLPTT (Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu) dan BLBU (Bantuan Langsung Benih Unggul) yang berkesinambungan di tingkat usaha tani.

 

Tanaman Kedelai milik Bapak Natim  Anggota Kelompok Tani Karya Baru seluas 0,25 Ha. (dok.desa)

Sebagaimana harapan Pemerintah untuk swasembada kedelai di tahun 2018, maka Kelompok Tani Karya baru yang beralamatkan di Kampung Tridarma Wirajaya, Kecamatan Banjar Agung, Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung melalui BP3K Kecamatan Banjar Agung telah menerima bantuan bibit kedelai sejumlah 340 Kg yang diperuntukkan luas tanam 8,5 Ha. ( 40 Kg untuk lahan seluas 1 Ha)

Sebenarnya anggota kelompok Tani akan menanam dalam jumlah yang lebar, tetapi kedatangan benih kedelai diakhir  bulan Oktober, jadi benih yang ada belum tertanam semua, karena di awal bulan Oktober lahan yang dimiliki petani sebagian sudah di tanam jagung“. Kata Bapak Mulyadi selaku ketua kelompok.

Untuk meyakinkan bahwa benih yang telah diberikan ditanam oleh petani atau tidak, maka pada tanggal 09 November 2017 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tulang Bawang yang dipimpin oleh Bapak Warjo meninjau langsung keberadaan tanaman kedelai, ternyata memang benar sebagian telah ditanam.

Dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tulang Bawang mengakui, bahwa “Sebagain bibit kedelai belum ditanam semua, dikarenakan lahan untuk ditanam kedelai sudah ditanam jagung, tetapi benih tersebut akan ditanam setelah tanaman jagung dipanen,” ungkap Bapak Warjo.

Bantuan Benih Kedelai kepada Kelompok Tani Karya Baru (dok. desa)

Disisi lain petani juga masih menanam jagung jenis P1 yang merupakan benih bantuan dari Pemerintah. Seperti yang tampak di bawah ini, luas tanama ini 0,5 Ha, sedangkan yang masih kecil itu seluas 0,25 Ha. “Rencananya lahan ini seluas 1,25 akan saya tanam kedelai semua setelah panen jagung,” kata Bapak Natim

Tanaman jagung Milik Bapak Natim seluas 0,5 Ha (dok. desa)

 

Tanaman Jagung milik Bapak Natim seluas 0,25 Ha berumur 1 (stu) bulan.  (dok. desa)

Selain budidaya kedelai dan Jagung, juga budidaya cabai besar keriting yang merupakan uji coba tanaman tumpangsari antara jagung dan cabai.

“Ini baru pertama kalinya saya mencoba menanam cabai yang dicampur dengan tanaman jagung, melihat perkembangannya cukup bagus. Ada juga yang daunnya keriting, tetapi ada harapan untuk pulih kembali,” kata pemilik kebun, yaitu Bapak Mulyadi. Karena masih uji coba, maka tanaman itu tidak terlalu luas hanya 0,125 Ha.

Uji Coba Tanaman Cabe Tumpang Sari dengan Tanaman Jagung milik Bapak Mulyadi dengan luas 0,125 Ha (dok. desa)

(bdr/bdr)

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan